Sering kita mendengar pepatah "lidah tidak bertulang". Lidah bisa lebih tajam dari sebilah pedang. Lidah bisa membuat bencana yang teramat besar, dan bahkan fitnah juga hasil kerja lidah.
Semua ini bukan salah si lidah, tapi siapa yang punya lidah. Karna si empunya lidah berperan dalam mengoperasikan lidah. Lidah adalah alat dan si empu lidah adalah operatornya. Sebuah mesin tergantung pada yang mengoperasikannya. Jika baik dalam mengoperasikan alatnya maka sungguh luar biasa hasil yang akan diperoleh, tapi sebaliknya jika tidak baik dalam mengoperasikannya malapetaka akan didapat. Bukannya untung tapi malah buntung.
Saudaraku sesama muslim marilah kita sama-sama belajar untuk mengoperasikan lidah yang kita punya agar bermanfaat bagi kebaikan umat. Semoga ilmu berikut dapat membantu kita mengoptimalkan apa yang Allah berikan kepada kita. Amin.
"Etika dalam berbicara"
1. Hendaknya membicaraan selalu di dalam kebaikan.
“ Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia ”
(An. Nisa : 114)
2. Hendaknya berbicara dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah.
“ Ungkapannya jelas, dapat dipahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan”
3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna.
“ Tidak termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna ”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
4. Janganlah anda membicarakan semua yang anda dengar.
“ Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua yang telah ia dengar “ (HR. Muslim)
5. Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekaipun bercanda.
“ Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga, bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar, dan (Penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda “ (HR. Abu Daud dan dinilai oleh Al-Albani)
6. Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.
Aisyah ra. telah menuturkan ,
“ Sesungguhnya Nabi apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya ” (Muttafaq ‘alaih)
7. Menghindari sikap mamaksakan diri dan banyak bicara di dalam pembicaraan.
Di dalam hadist Jabir disebutkan : “ Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun “ Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apa arti mutafaihiqun? Nabi menjawab, “ Orang-orang yang sombong “ (HR. At-Turmudzi, dinila hasan oleh Al-Albani)
8. Menghindari perbuatan menggunjing (Ghibah) dan mengadu domba.
‘ Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain “
(Al-Hujurat : 12)
9. Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya.
“ Juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya “
10. Jangan memonopoli dalam berbicara.
“ Berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara”
11. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan.
“ Tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan ”
12. Menghindari sikap mengejek, mengolok-olok dan memandang rendah orang berbicara.
“ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan) “ (Al-Hujurat : 11)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Filed Under :
Selasa, 13 Juli 2010
0 komentar:
Posting Komentar